saat berjalan tanpa alasmu
seringkali kutanyai mengapa itu
meski kutahu jawabannya hanya berderu satu
saat itu ada kebutuhan ruang dan waktu
kutemukan tempat alas kakimu merindu
ia ditendang oleh pilu
aku merapikannya kembali dengan saru
sejak meraup keheningan bersama di tempat jauh nan dingin itu
kau mampu buatku merasakan lagi hal yang tak menentu
tapi bersamaan dengan rindu
juamu pergi dan melalu
kusimpulkan bahwa terhadapku,
semua lawan jenis bertingkah laku:
mengorek tempat singgah sementara waktu
kemudian tinggalkannya bernanah dan jadi busuk untukku
pula kau!-sepatu dalam makna palsu-mengapa tinggalkan jejakmu di hatiku
tidakkah kau tahu;
aku lelah dibelenggu elegi yang tak menentu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar