Itulah perkiraan pertamaku tentangmu,
hingga aku berharap tidak menjadi anakmu di live in saat itu
tapi semua angan lenyap ketika namaku dan Vivi dipanggil
Oke, sejak saat itu, kaulah ayahku...
Kita arungi jalan yang sangat menurun itu sambil berceloteh riang
Hmm lebih tepatnya kau yang berkisah tentang Candi Risan,
sementara anakmu ini-aku dan Vivi sibuk mendengar sambil merangkai pertanyaan selanjutnya.
Aku menoleh ke kanan.
Dan di bawah sana seperti ada kerajaan pohon bambu
Mereka melengkung dari kedua sisi-kanan dan kiri,
hingga seperti membentuk sebuah gerbang
Kupanggil Vivi pelan-pelan dan kupasang wajah khawatir
Vivi mengerti maksudku.
Ia tahu aku takut jika harus tinggal di rumah dengan banyak pohon bambu seperti itu
Tapi kami terus melangkah sambil membawa perkiraan tentang rumah kami nanti
Pikiran aku dan Vivi sama: rumah kami sederhana.
Tidak murni gubuk namun juga tidak modern.
Jalan mulai datar dan di samping jalan sebelah kiri telah berdiri seorang ibu
Hatiku dan hati Vivi serempak menyayangi ibu yang tersenyum ramah itu
Sekilas kami ingin memiliki ibu itu sebagai ibu kami di Candirejo ini.
Tapi, siapakah sangka akan terjadi?
Ayah berbelok ke kiri-ke arah rumah itu,
namun kami tidak melihat.
langkah kami tak terhenti dan terus berjalan lurus
Ayah memanggil.
Kami menoleh dan ayah mengatakan ini adalah rumah kami.
Seperti boneka, aku dan Vivi hanya mengikuti langkahmu, ayah...
Lalu kamu terhenti lagi ketika akan memasuki rumah itu
Lantai dalamnya sudah keramik.
Aku dan Vivi saling berpandangan.
Perlu kuakui, saat itu aku kecewa.
"Harusnya rumahku sederhana..."batinku.
Rumah itu terlalu mewah untuk live in kami.
Kami pun masuk sambil mengagumi isinya.
Mewah untuk ukuran sebuah desa.
Sangat mewah lebih tepatnya.
Ketika ayah dan ibu tak melihat,
aku menunjuk-nunjuk ke arah sofa modern dengan hebohnya walau tanpa suara
Di ruang lainnya, percakapan kita sebagai keluarga pun dimulai...
Rumahmu sungguh luas, ayah...
Kamar yang kauberi juga luas
Ayah...
Selama 4 hari kami di sana, kami sadar kau sungguh tegas
sejujurnya aku dan Vivi takut jika di depanmu.
kau tidak seram, tapi sesuatu dalam dirimu seakan membekukan kami
Membuat kami lebih sopan tentunya...hehehe...
Kau beri aku makna hidup dalam ajaran agama,
kau ajari aku untuk memperhitungkan sesuatu dengan matang,
kau ajari aku cara memlinting rokok
dan banyak hal lain yang tak terungkapkan
Lalu di hari terakhir itu,
ketika dari rumah Vivi sudah mulai menangis sedikit,
aku hanya menenangkan tanpa rasa sedih
Ketika ibu menyuruh kami cepat berangkat karena semua sudah ke kapel,
ayah menahan...
Dari situlah kami menangkap maksud hatimu, ayah...
Kau menyayangi kami dan tidak ingin kami cepat pergi...
Dan untuk itulah kami mencoba bertahan sedikit lebih lama di rumah itu
Hingga kami pun sampai agak belakangan di kapel
Ayah,
engkau selalu memisahkan diri dari aku, ibu, dan Vivi ketika moment sedih
Tak perlu ditutupi, ayah...
Kami tahu kau sedih...
Kami tahu saat kau berusaha menahan tangis,
atau saat kau mengusap matamu yang berkaca-kaca...
Ayah, awalnya aku ragu untuk memelukmu ketika perpisahan...
Kulihat Vivi tak memelukmu juga,
tapi rasa sayangku mematahkan ego dan rasa malu milikku
Kupeluk kau, ayah...
Tak banyak kata terucap,
hanya terima kasih dan maaf yang meluncur dari mulutku
Namun seuntai kalimat darimu telah membawa diriku memelukmu lebih erat, ayah...
Dan air mataku pun meluncur lebih banyak dibandingkan percakapan terakhir kita itu...
Selamat tinggal, ayah...
kuharap dapat mengunjungimu lagi...
Hanya lambaian tanganmu yang kulihat terkhir kali dari atas truk
Aku mencoba melihat wajahmu sekali lagi,
tapi tidak bisa.
Aku terdesak di tengah di antara teman-teman dan tas bawaan yang ada
Aku bahkan tak punya pegangan untuk menahan keseimbanganku
karena itu, aku berusaha berjinjit setinggi mungkin dan melambaikan tanganku padamu...
Ku harap kau melihat lambaian itu...
Sampai bertemu lagi, ayah...
Aku sangat menyayangimu.......