Sabtu, 24 September 2011

Ayah Purwanto

Kau galak dan tidak asik.
Itulah perkiraan pertamaku tentangmu,
hingga aku berharap tidak menjadi anakmu di live in saat itu
tapi semua angan lenyap ketika namaku dan Vivi dipanggil
Oke, sejak saat itu, kaulah ayahku...
Kita arungi jalan yang sangat menurun itu sambil berceloteh riang
Hmm lebih tepatnya kau yang berkisah tentang Candi Risan,
sementara anakmu ini-aku dan Vivi sibuk mendengar sambil merangkai pertanyaan selanjutnya.
Aku menoleh ke kanan.
Dan di bawah sana seperti ada kerajaan pohon bambu 
Mereka melengkung dari kedua sisi-kanan dan kiri,
hingga seperti membentuk sebuah gerbang
Kupanggil Vivi pelan-pelan dan kupasang wajah khawatir
Vivi mengerti maksudku.
Ia tahu aku takut jika harus tinggal di rumah dengan banyak pohon bambu seperti itu
Tapi kami terus melangkah sambil membawa perkiraan tentang rumah kami nanti
Pikiran aku dan Vivi sama: rumah kami sederhana. 
Tidak murni gubuk namun juga tidak modern.
Jalan mulai datar dan di samping jalan sebelah kiri telah berdiri seorang ibu
Hatiku dan hati Vivi serempak menyayangi ibu yang tersenyum ramah itu
Sekilas kami ingin memiliki ibu itu sebagai ibu kami di Candirejo ini.
Tapi, siapakah sangka akan terjadi?
Ayah berbelok ke kiri-ke arah rumah itu,
namun kami tidak melihat.
langkah kami tak terhenti dan terus berjalan lurus
Ayah memanggil.
Kami menoleh dan ayah mengatakan ini adalah rumah kami.
Seperti boneka, aku dan Vivi hanya mengikuti langkahmu, ayah...
Lalu kamu terhenti lagi ketika akan memasuki rumah itu
Lantai dalamnya sudah keramik.
Aku dan Vivi saling berpandangan.
Perlu kuakui, saat itu aku kecewa.
"Harusnya rumahku sederhana..."batinku.
Rumah itu terlalu mewah untuk live in kami.
Kami pun masuk sambil mengagumi isinya.
Mewah untuk ukuran sebuah desa.
Sangat mewah lebih tepatnya.
Ketika ayah dan ibu tak melihat,
aku menunjuk-nunjuk ke arah sofa modern dengan hebohnya walau tanpa suara
Di ruang lainnya, percakapan kita sebagai keluarga pun dimulai...
Rumahmu sungguh luas, ayah...
Kamar yang kauberi juga luas
Ayah...
Selama 4 hari kami di sana, kami sadar kau sungguh tegas
sejujurnya aku dan Vivi takut jika di depanmu.
kau tidak seram, tapi sesuatu dalam dirimu seakan membekukan kami
Membuat kami lebih sopan tentunya...hehehe...
Kau beri aku makna hidup dalam ajaran agama,
kau ajari aku untuk memperhitungkan sesuatu dengan matang,
kau ajari aku cara memlinting rokok
dan banyak hal lain yang tak terungkapkan
Lalu di hari terakhir itu,
ketika dari rumah Vivi sudah mulai menangis sedikit,
aku hanya menenangkan tanpa rasa sedih
Ketika ibu menyuruh kami cepat berangkat karena semua sudah ke kapel,
ayah menahan...
Dari situlah kami menangkap maksud hatimu, ayah...
Kau menyayangi kami dan tidak ingin kami cepat pergi...
Dan untuk itulah kami mencoba bertahan sedikit lebih lama di rumah itu
Hingga kami pun sampai agak belakangan di kapel
Ayah, 
engkau selalu memisahkan diri dari aku, ibu, dan Vivi ketika moment sedih
Tak perlu ditutupi, ayah...
Kami tahu kau sedih...
Kami tahu saat kau berusaha menahan tangis,
atau saat kau mengusap matamu yang berkaca-kaca...
Ayah, awalnya aku ragu untuk memelukmu ketika perpisahan...
Kulihat Vivi tak memelukmu juga, 
tapi rasa sayangku mematahkan ego dan rasa malu milikku
Kupeluk kau, ayah...
Tak banyak kata terucap,
hanya terima kasih dan maaf yang meluncur dari mulutku
Namun seuntai kalimat darimu telah membawa diriku memelukmu lebih erat, ayah...
Dan air mataku pun meluncur lebih banyak dibandingkan percakapan terakhir kita itu...
Selamat tinggal, ayah...
kuharap dapat mengunjungimu lagi...
Hanya lambaian tanganmu yang kulihat terkhir kali dari atas truk
Aku mencoba melihat wajahmu sekali lagi, 
tapi tidak bisa.
Aku terdesak di tengah di antara teman-teman dan tas bawaan yang ada
Aku bahkan tak punya pegangan untuk menahan keseimbanganku
karena itu, aku berusaha berjinjit setinggi mungkin dan melambaikan tanganku padamu...
Ku harap kau melihat lambaian itu...
Sampai bertemu lagi, ayah...
Aku sangat menyayangimu.......

Kamis, 22 September 2011

Unpredictable

Suatu hari ketika gw lagi di ulang tahun temen gereja gw, Lydia, seorang sahabat gw memberitahu gw sesuatu dari handphone miliknya. Gw disuruhnya membaca tulisan yang cukup panjang itu dan hasilnya sangat membuat gw dan sahabat gw yang lainnya shock.

Ini gw post isinya tanpa ada perubahan pada kata ataupun grammar, karena gw merasa ga berhak buat merubah apapun dan merasa kurang kompeten memperbaiki grammar-nya. So, just read and enjoy this sharing...

FOOLISH GIRL

you know I hurt a lot
my heart is absolutely broke
when you chose her instead of me
but now you know she's worth
for nothing

you make my heart drop by just saying hi
I hate to admit it, but you're still amazing
I'm not sure if we could ever be together
but you know what? I still love you anyway

how can I over you when I know loving you is like breathing
how can I stop? please tell me,
how can I?

yes I'm the foolish girl
who in love with a boy who did hurt my heart
I just want you to know that I honestly try my hardest everyday
but surely you know I can't
I would never ever able to erase you from my heart
cause you know I'm the foolish girl

you stayed in my heart without even invited
and now you told me to move on and forget about you
the only problem is that a heart doesn't forget something like that

if tomorrow never come
would you know how much I love you?
cause I love you for whatever you are, whatever you were, and whatever you will be

sometimes I just let the music take me away
it blocks all thoughts of the problems I have in reality
you're the single reason of every single day I passed through my sad and happiness
because you're absolutely breathtakingly, heartstoppingly amazing
and I'm just the foolish girl who trapped in your love game

Senin, 19 September 2011

ein Brief

Lieber EH,

Grüezi! Ich bin dein Freundin (nicht)...
Ich vermisse dich sooooooo viel!
Natürlich du bist in Sprachklasse nicht...Aber ich hoffe, dass du gut bist in deine Klasse...
Ich liebe dich...
Bitte ruf mich an oder kannst du mit mir treffen?ich vermisse dein Lächeln.. :(
:)



Liebe,
   EL

Minor dan Mayor

Muka ia bosan.
Mukanya pun bosan.
Muka yang lain pun sama bosannya.
Teman-teman bosan.
Bosan pada rintihanku.
Bosan pada hatiku.
Serentak mereka menutup kuping walau mata masih menatapku.
Tak mereka katakan, tapi aku tahu...
Kini setelah kehilangan pilar nyaman yang ingin kupeluk,
perlahan aku pun kehilangan pemberi warna di hidupku.
Teman, sahabat, aku tahu kalian bosan pada kelemahanku.
Seberapa besar pun kalian coba tuk memahami,
aku tetap merasa kehilangan kalian.
kalian sudah bosan mendengarku lagi,
karena aku bukanlah aku.
Kalian hampir membawaku ke psikiater ya?hahaha...
Terima kasih kawan atas perhatiannya...
Keadaanku seburuk itu ya?
sampai hasil tes pun menyuruhku pergi ke tempat yang sama.
Sekarang aku takut hati orang tuaku sakit seperti katamu.
Telah kututupi semuanya demi mereka.
Tapi aku bagian dirinya,
aku khawatir mereka ikut merasakannya...
Maaf...
Karena aku bukanlah aku.
Apa yang kalian lihat dari lukaku hanyalah hal minor.
ada hal mayor di bagian terdalamnya.
Ingin rasanya berteriak menyuarakan semua.
Tapi aku adalah aku...
Aku menikmatinya sendiri...semuanya...
tapi kini aku mulai merana menjahit luka dalam kesendirian tanpa ditemani waktu,
seakan semuanya tiada akhir.
Aku lelah memaksa senyum.
Aku runtuh jika harus terus-menerus membuat tawa dalam kepedihan.
Hal minor dan mayor tak terpisahkan,
dan karena itulah aku hanya boleh berteriak di setiap sepi...

Sabtu, 17 September 2011

Kini

Hahahaha...
Sayapku mulai tumbuh.
Tubuhku mulai berubah menyeramkan.
Jangan harap bisa sentuh rambut lembutku lagi.
Semuanya telah hilang. HILANG!
sebagai gantinya, aku diberi dua benda runcing ini.
Satu di sisi kiri, satu di sisi kanan.
Hahahaha...
Tidakkah kau dengar tawa bengisku?
Apa katamu? Aku berubah?
Aku sebenarnya tak tahu, tapi mungkin saja itu benar.
Banyak iblis yang mengubah keadaan jadi lebih buruk.
Tapi aku tipe iblis yang lain.
Akulah iblis yang dibentuk oleh keadaan.
Ya, aku iblis.
Iblis!!!
Sampai semua pun enggan mendekatiku.
Semua enggan menyayangiku!
Kenapa?!
Karena aku tak punya hati lagi!Mereka, kamu, kamu, atau kamu berkata seperti itu.
Ya, aku tak punya hati.
Aku iblis dan mungkin selamanya iblis!
dia tak mungkin sayang pada iblis, kan?!
Itulah sebabnya ia menyerangku dan berlari menjauhiku...

Jawaban Dari Hati

dari aku-kamu menjadi gw-lw
harusnya bukanlah persoalan.
kupastikan pada diri sendiri,
"kecewakah kamu?"
mulut menjawab,
"tidak. semua ini tidak apa-apa."
tapi tangan menutup mulut.
"jangan percaya, mulut hanya berbohong."
lalu kaki menghentak kasar kasur dan mendorong selimut.
"apa sih yang terjadi?"tanyaku pada kaki.
kaki tak bereaksi, tapi mata mulai menjawab.
jawabannya turun perlahan. basah.
kuping mendengar dan hanya memerah
"tanya pada hati saja,"sarannya.
lalu aku berusaha bersua dengan hati.
"apa yang terjadi sih? aku tak apa-apa, kan?"tanyaku tak sabar.
hati hanya terdiam.
"aku tak mengerti maksudmu! jangan hanya diam!"
hati bereaksi atas teriakanku.
dikirimnya rasa nyeri yang melanda hingga kini.
tangan memegang hati.
"tenang, kawan..."
tapi hati justru semakin meremas.
"maaf..."ujar tangan padaku.
"seperti yang kamu tahu, hati tidak bisa bicara. Jadi, inilah jawaban darinya,"ujar tangan lagi.
seketika mulut menjadi bisu dan kaki bergeming.
hanya mata-lah yang ikut bereaksi bersama hati...
mereka sama-sama tahu bahwa kebahagiaan telah berakhir...

Kamis, 15 September 2011

Demi Cinta-Kerispatih

ini lagu galau yg dinyanyiin beberapa temen di bus 1 pas pulang live in..
alhasil gw bangun n ga bisa tidur lg..

Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia-siakan hidupku,
Dan kubawa kau seperti diriku


Walau hati ini t'rus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta
Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan cinta sejatiku
Segalanya t'lah ku berikan
Juga semua kekuranganku


Jika memang ini yang terbaik
Untuk diriku dan dirinya
Kan ku t'rima semua demi cinta


Jujur, aku tak kuasa,
Saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi,
Kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya

Kamis, 08 September 2011

Aku berharap dibutakan dari kalian
ditulikan dari kabar bahagia kalian
dibisukan dalam menyuarakan rasaku
dilumpuhkan dari egoku
dan dikebalkan dari penyerahanku dulu.

Bingkai Kenyataan

terlalu nikmat tidur di kasur mimpi berselimutkan janji-janji
jangan langsung bangunkan aku!
Aku tak pernah disiapkan untuk itu.
Aku juga tak mau dipindahkan ke kasur keras ini!
Aku dan egoku ingin melawan,
tapi Tuhan melarang.
BisikNya,
"Lakukan hal kepada orang lain apa yang kamu mau orang lakukan kepadamu"
Aku tak mau dibenci,
maka aku tak membenci.
Aku tak mau dilarang,
maka aku tak melarang.
Aku tak mau dikhianati,
maka aku tak mengkhianati.
Aku tak mau disakiti,
maka aku tak menyakiti.
Aku hanya mau dicintai,
maka aku mencintai.
Mencintai abu hasil bakaranmu.
Akankah kau tahu?

Senin, 05 September 2011

Serpong, 5 September 2011

Ytc. Oco
di surga


Oco...aku kangen banget sama oco...sekarang sedih banget rasanya, karena aku cuma bisa liat foto oco..
Oco, aku mau cerita..waktu itu sempet adalah personal growth yang temanya keluarga..aku seneng banget karena waktu itu aku bisa sebut kalau aku masih punya nenek buyut..aku ngerasa keluargaku masih lengkap banget dan aku bersyukur bisa tahu dan kenal oco..
Sayangnya di pertemuan personal growth berikutnya, aku udah ga bisa sebut hal yang sama lagi karena oco udah ga ada..

Ocoku tersayang, sekarang oco lagi apa di sana? Oco bahagia kan? Oco pasti bahagia di sana..aku yakin itu..karena setahuku di sana semuanya bener-bener indah dan damai..Oco, aku titip salam buat Tuhan Yesus yaa.. tolong bilang makasih juga buat semua kasihNya ke aku.. :)

Oco, sekarang aku udah kelas 3 SMA..aku inget banget ini pertanyaan yang sering oco tanya ke aku..makasih ya oco udah temenin aku sampe umurku 17 tahun kurang 15 hari..aku sempet sedih waktu nerima kenyataan bahwa oco meninggal di bulan November, bulan ulang tahunku..sekarang bulan itu bener-bener berat banget buat aku, oco..walapun aku ulang tahun di bulan itu, tapi semua rasa sakitku kumpul jadi satu di bulan itu..

Oia oco, maaf ya waktu itu aku ga bisa nganter oco ke peristirahatan terkahir oco..aku ga liat saat oco di kremasi dan abu oco di buang ke laut..maaf banget...waktu itu aku terpaksa ga ikut karena mesti persiapan buat Scientific Competition..bahasa Inggrisku ga bagus, jadi aku mesti latihan dan persiapin diri bener-bener waktu itu..hmm..tapi untungnya aku masih sempet liat oco sebelum peti putih itu ditutup..
maaf ya oco waktu itu aku datangnya telat..sebelumnya aku ada acara kelas ke Taman Ismail Marzuki..aku sampe sempet berantem sama mami karena aku disuruh ikut pulang sama yang lain ke BSD..padahal aku pengen banget langsung ke rumah duka di Husada.. :(
Awalnya mami bilang ga ada yang bisa jemput aku di TIM karena semuanya lagi di Husada. Aku sampe sedikit nangis di telpon saking sedih dan kecewanya, padahal waktu itu lagi pertunjukkan drama Anak Sanggar Akar-nya..huaaaa jadi malu.. :/
Tapi, ternyata Tuhan kasih jalan loh, oco.. :) Walaupun mesti nunggu sendirian di TIM yang sepi, aku akhirnya bisa dijemput juga sama papi :)

Oco liat aku datang kan? Soalnya aku ngerasa masih ada oco di ruangan itu..
lemes rasanya liat oco di peti itu, tapi aku tetap bersyukur karena aku tahu oco udah tenang di sana bareng Tuhan Yesus..

Oco, aku minta maaf udah lama ga doain oco..aku lagi ada masalah, oco..aku jadi lebih sering doa buat hal itu..aku tahu aku egois, makanya mulai sekarang aku janji akan berusaha rutin kirim doa ke oco..oco harus terus bahagia ya di sana :) jangan ada yang dipikirin lagi..aku usahain akan bahagiain oma, anak oco..

Oco, aku bener-bener sangat minta maaf buat hal yang berikut ini.. Aku sering ga hargain oco.. Kalau oco nanya pertanyaan yang diulang-ulang, aku suka ga jawab..kalau oco mau makan, aku suka males nganterin makanan ke oco..kalau oco mau ke toilet, aku suka males nemenin karena ada mba..padahal aku sendiri tahu perlakuan mba ke oco ga baik.. :(
Bahkan oco sampe pernah jatuh karena mau ke toilet tanpa ngerepotin kita semua..

Ahhhhh oco...padahal waktu itu cukup lama juga oco nginep di sini..kenapa aku ga pake waktu itu buat berbakti ke oco......
Pas oco pindah nginep di Jakarta, aku baru ngerasa nyesel banget sama semua kecuekan aku ke oco..padahal oco selalu kasih senyum yang tulus setiap kali aku atau cicit-cicit oco yang lain lewat..aku tahu oco seneng banget bisa punya kesempatan liat kita tumbuh..tapi, waktu itu aku ga terlalu peduli... :(

Oco..aku pikir oco akan nginep lagi di sini..aku udah bertekad mau bener-bener nebus kesalahan aku..tapi ternyata oco udah dipanggil Tuhan sebelum sempat balik ke sini..Aku kaget banget waktu dengar oco meninggal..waktu itu aku masih di sekolah dan dapat SMS dari mami..aku lemes banget, oco..aku bener-bener ga nyangka firasatku akan jadi nyata..

Oco, maafin aku..sekali lagi maafin aku..aku ga bisa nebus kesalahan aku dan aku tersiksa banget sama kenyataan itu..sekarang, aku cuma bisa kirim doa ke oco..Semoga oco selalu bahagia dan tenang ya di sana..

Amin..


Cicit yang sangat menyayangimu,


          Sesil

Jumat, 02 September 2011

Lentera HatiMu

(ini puisi pas SMP buat ikutan lomba di majalah ibu2..sok yaa..ckck)

Kau izinkan aku tetap membuka mataku,
juga mata hatiku.
Memberikan kesempatan padaku untuk merasakan duka,
sampai tiba saatnya ku mengerti tentang hal yang berharga
Tiap detik nafas hidupku adalah karunia dariMu
Mempersiapkan diriku untuk layak,
walaupun hanya berada di bawah kakiMu
Kau ulurkan tanganMu dan beri sentuhan kasihMu
Bagai bentangan sayap penerpa kalbu,
memberikan pijakan tuk tetap berdiri kokoh,
menjulang tinggi meraih harapan
Merambat dari tiap-tiap sudut rohani,
menghadirkan kembali ketenangan hati
Hembusan angin bagai nurani,
menyingkap keraguan silih berganti
Gesekan daun dan riakan ombak seakan berbisik,
menyadari dan memuliakan keagunganMu
Kau menuntun jalan hidupku menuju tempat yang baru
Melepas dan membiarkanku tuk bebas berlari
mencari arah dari sebuah simfoni nan indah,
pengiring tiap langkah-langkahku
Kini, ku telah temukan itu
ia menyuruhku tuk kembali datang kepadaMu
Di kala langit senja kutatap mataMu
ada ungkapan rindu terpancar dari lentera hatiMu
Terbiaskan ke dalam relung hatiku,
ajakku menyapaMu dan berikan cinta menuju hadiratMu