Jumat, 28 Oktober 2011

Guratan Tulang Daun

Dulu hijau sekarang cokelat
Dulu segar sekarang layu
layu dan siap jadi serpihan,
namun tetap bertahan sampai sekarang-entah sampai kapan
memang terlihat tak berharga
tak bernilai
namun di dalamnya tersimpan sejuta makna
arkeolog, sejarawan, ataupun antropolog tak akan mampu menguaknya
mungkin mereka akan bingung dan bertanya-tanya
"Apa istimewanya?"
tak akan ada yang mampu mengorek fakta
karena sang daun tetaplah diam
hanya menjadi saksi bisu dari sekian lembar kertas memori
hanya menjadi ungkapan rasa insan yang dapat berubah digiring waktu
jutaan makna hanya dapat ditemui dari guratan halus di tubuhnya
guratan pembentuk tulang daun...
lihat dan tataplah lebih dalam
maka menjawablah ia akan rasa ingin tahumu
akan ia hadirkan rekaman kata dan ekspresi sebagai bukti
yang tak akan kau temui lewat guratan tulang daun lain di tanah ini...

Minggu, 23 Oktober 2011

Ibu Pariyem

Ibu...aku sangat rindukan senyummu
senyum itu mengisi hati sejak pertama kali kita saling menatap
senyum yang selalu hadir di sela pembicaraan kita sebagai keluarga
antara aku-ibu-vivi-ayah.
tak pernah sekalipun ada keluh kesah terlontar darimu
hanya senyum dan senyum
seakan senyum itu adalah makananku
makanan untuk hati dan jiwaku...
Ibu...
katakan sakit jika kakimu memang sakit
jangan paksakan tersenyum seakan tak ada apa-apa
aku akan carikan obat untuk sembuhkanmu
akan kukirimkan segera sesuai kebutuhanmu
Ibuku...kenapa ragu untuk sentuh aku, anakmu?
Kita tak berjarak secara emosional dan hati
hanya istilah kota dan desa saja yang menjadi jarak
tapi istilah itu bukan penghalang,
mereka menjembatani kita
menjembatani kasih sayang di antara anak dan ibu
yang walaupun terpisah jauh,
hatinya akan terus menyatu
Ibu...terima kasih sudah izinkan aku cium pipi lembutmu
pipi yang menghantarkan getar kasih sayang dari senyumanmu
terima kasih sudah mau balas memeluk dan menciumku
tapi kenapa tidak sejak awal saja ibu sentuh dan peluk aku
jangan ragu lagi ibu,
aku anakmu...
kau bebas perlakukan aku dengan kasih sayangmu
aku mencoba dekat dan duduk di sebelahmu,
jangan lagi kau mencoba menjauh, ibu...
karena aku tak membeda-bedakanmu
desa dan kota hanyalah istilah
istilah yang seharusnya tidak berhak menjauhkan kita
Ibuku..aku tak sanggup penuhi permintaanmu
"jangan nangis lagi, nanti ibu ikutan nangis"
aku sudah coba, bu...
aku coba tak menangis saat aku dan vivi memelukmu
kucoba benamkan sedihku pada tawa
tapi mulut hanya keluarkan tawa palsu,
karena mata tak mau menurut dan tetap keluarkan butiran air mata
vivi menangis.
aku menangis.
kau menangis.
kita berpelukan semakin erat.
kau bisikkan padaku permintaanmu.
tangisku pecah semakin parah.
kau pun semakin menangis.
vivi juga begitu.
lalu kita bertiga sama-sama mencoba untuk tersenyum, tertawa, dan menghentikan air mata
tissue menemani kita menyeka air mata.
kita ubah topik; mencari ayah.
ayah ada di seberang sana-menjauh dari kita sejak tadi tapi terlihat murung
ayah menyeka air mata-benarkah yang kulihat?
ibu mengalihkan perhatianku dan vivi pada ayah.
ibu menghindari pecahnya tangis lagi.
terima kasih banyak bu atas semua sajian lezat darimu
atas daun sirihmu saat vivi terus-menerus mimisan
atas ajaranmu rabok letong dan nge-gatul
atas semuanya...
ibu...sudah baca surat itu, kan..?
aku menyayangimu...
sungguh amat sayang...
kini aku kembali pulang dahulu,
tapi percayalah bahwa aku akan kembali memelukmu erat dan saksikan senyumanmu lagi..

Sabtu, 22 Oktober 2011

Aksara Dalam Dikte

alif kaf wau sin alif ya nga kaf alif mim wau dal alif nun shat
sin alif ya nga ba alif nga ta
sin kaf alif lam ya sin alif ya nga ta ta fa sin alif ya nga
sin lam mim alif nya ca nun ta
alif kaf wau mim nun nun ta ya mim wau
Hanya ini.
Berharga sungguh.

Minggu, 16 Oktober 2011

Pengendara Kuda Putih

Kau hanyalah lagu bergenre lain
bukan yang membuat galau
Kau hanyalah air yang suhunya lebih sejuk
bukan yang biasa kudapat dari keran
karena kau turun langsung dari air terjun
Aku suka tawamu,
seakan tak ada beban
Tulang pipimu tegas,
buatmu tampak dewasa dan bersahaja
Kau macho
Tak tahu kenapa aku bilang begitu
Definisi macho saja masih ambigu dalam benakku
Tapi yang pasti kata itu cocok buatmu
Dasar tampan.
Kendarai kuda putihmu
Temuilah putri yang sepadan denganmu
yang akan hargai hatimu selayaknya ia hargai wajahmu
Karena aku di sini
tak inginkanmu
Aku hanya menggantungkan senang lewat senangmu
Pun aku menyender pada tegasmu biar tak lemah
Kau adik kelasku
Ingat ada status ini.
Sekali lagi kupastikan dan kukatakan
Aku tak inginkanmu
Aku hanya mencuri secuil harap dari senyumanmu
Hanya itu.
Terima kasih.

Selasa, 11 Oktober 2011

Janji Waktu

Hujan..
Maukah kau bawa diriku mengalir bersama air jatuhanmu?
Maukah kau ajari aku makna dari setiap desahan jiwamu?
Hujan oh hujan..
Bawalah sahabat-sahabatku menuju kebahagiaan
Jangan jatuhi mereka dengan segenap perasaan cinta yang palsu,
cinta yang sakit.
Tolong jangan.
Karena aku disini tak bisa menggapai mereka
Tak bisa menyeberangi kabut ilusi jarak yang pilu
Hujan..
Sejak dulu raganya dan ragaku memang terpisah
Tetapi waktu menanamkan hati ini padanya
Membuatnya menyatu.
Aku bertanya-tanya saat ia pergi
Aku merasa kehilangan segalanya
Hujan tolong banjiri aku dengan basahmu!
Buat aku sadar betapa kotornya diriku
Buat aku semakin sadar betapa bodohnya aku tetap menunggu
Menunggu senyumnya sambil berlapang dada untuk disakiti lagi
Jiwa dan ragaku bodoh telah saling mencabik
Membuat perih penglihatan
Membuat perih hati
Hujan bawalah sahabat-sahabatku keluar dari belenggu kelabu
bawa mereka terbang ke inti sejuk kalbumu
Aku tak ingin mereka disakiti
Hujan..
Naungi mereka dengan pelangi kasih abadi
Sampai suatu saat nanti seseorang mengatakan pada mereka
"Kaulah tulang rusukku yang hilang dan telah lama kucari"
Bantu aku, hujan..
Lingkupi aku terus dalam dirimu yang basah
samarkan air mata penantian yang terus terjaga ini
suatu saat kuingin lihat sahabat-sahabatku bahagia,
meskipun aku masih dalam penantian janji waktu..

Senin, 03 Oktober 2011

Paksaan Waktu

Puisi ini murni pembelajaran awal buat menghasilkan suatu karya yang dewasa, walaupun udah pasti ga sedewasa karya Djenar Maesa Ayu..
Setidaknya gw bisa belajar banyak dengan cara menuangkan langsung apa yang gw pikir dan rasakan. Salah itu urusan kedua.. Yang pasti, puisi ini juga buat nepatin janji gw ke Debby yang sebelumnya udah lebih dulu berani menulis terbuka tentang hal-hal yang bisa dibilang dewasa.. Jika pikiranmu udah melantur kemana-mana, jangan salah paham untuk puisi yang satu ini. Karena ini hanyalah wujud estetika seni :)
---
ketika itu..
tatapan adalah cara kita berkomunikasi
dan senyum..
senyum adalah ungkapan kebahagiaan milik kita
hanya kita berdua..
pipiku bersemu merah ketika jemarimu mengusapnya
lembut..
adakah yang salah saat itu?
antara ya dan tidak.
yang pasti gemuruh dan gejolak di dalam hatiku
memintaku lebih dekat kepadamu..
walau sempat ragu, kupeluk juga dirimu
lenganmu yang nyaman balas memelukku
erat..
kubenamkan kepalaku di dadamu
tenang..
nyaman..
hingga aku sulit melepasnya
aku berdoa agar rasa ini tiada akhir
rasaku dan rasamu..
rasa sayang milik kita berdua
rasa yang kuharap dapat menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya
aku mendongak-menatapmu
berkomunikasi..
tanganmu bergetar ketika menyentuh daguku
menaikkannya perlahan dan kemudian menyentuhkan lembut bibir kita
bibirmu-bibirku menyatu selayaknya hati kita saat itu
kulingkarkan lenganku di lehermu dan bahagia menerpaku
aku percaya padamu
percaya bahwa kau akan menjagaku,
selayaknya aku yang juga berusaha menjagamu
menjaga diri dan hati.
diri untuk kupersembahkan padamu nanti.
hati untukmu seutuhnya,
mulus, tak bercela.
aku berada di dekapanmu sekarang
tapi itu ragaku..
sebab otakku berusaha berpikir jernih,
berjuang menjinakkan gemuruh dan gejolakku
aku hanya ingin berada di dekapanmu lebih lama lagi
merasa nyaman. nyaman. dan nyaman.
hanya itu.
tidak boleh lebih untuk saat ini.
kau mengelus lembut rambutku..
aku menatapmu,
berkomunikasi lagi.
bahagiaku mengucur deras,
sederas air yang mengucur dari lubang di sisi dua tebing suci
air mata pun bertingkah,
berlomba-lomba keluar untuk ungkapkan bahagianya..
bisa kulihat wajah panikmu melihat aku menangis
kau katupkan kedua tanganmu di pipiku,
sementara dua ibu jarimu bekerja menghapus air mataku..
dapat kurasakan detak jantung kita yang tidak beraturan
gemuruh dan gejolak itu ternyata sama-sama memburu..
sama-sama sulit dijinakkan-ditenangkan..
ketika semua bahagia ini direbut,
dipaksa waktu untuk direngkuh,
aku menunggu di sini..
di tempat nyaman nan empuk ini,
sebab kuyakin paksaan waktu akan berhenti
dan semua milikku akan kembali..