dalam butaku, aku hanya dibimbing perasaan
hanya perasaan inilah yang aku ikuti
ke manapun ia ingin berlari
ke manapun ia mengajakku pergi.
Aku dalam butaku,
hanya peka di dalam tanpa melihat.
Namun kutahu saat dewa anggur datang
ia sudah seperti bagian dari diriku sendiri
Aromanya khas
Derap langkahnya kukenal
Suaranya aku suka.
Dewa anggur memilih tempat.
Ia pilih yang terdalam.
Menyelinap sedalam mungkin.
Ia tumpahkan anggurnya
bukan buah tapi cairan
cairan agak kental nan nikmat
Manis.
Ya, manis.
Aku rasakan terus
Aku nikmati
sampai suatu hari kusadari
ia telah menumpahkah cairan itu ke seluruh diriku
perlahan tapi pasti,
aku terus merasakan cairan itu
Manis.
Ya, manis.
Tapi semakin lama aku rasakan,
aku baru sadar
bahwa manis itu hanya di awal
bahwa manis itu hanya sementara
mungkin kamuflase.
atau mungkin juga fatamorgana di padang pasir.
karena apa yang aku rasa....
bukanlah manis.
setetes pun bukan!
Hanya asam kecut, pahit, dan rasa panas yang ada
Cicipi saja!
Lalu kalau kau bisa,
suruh dewa anggur itu pergi!
Kalau kau bisa.
Ya, kalau kau bisa dan belum ketagihan oleh manis pemberiannya...
Senin, 29 Agustus 2011
Minggu, 21 Agustus 2011
Ruang Pengakuan
Bapa,
Maaf karena aku lebih sering datang dan dekat padaMu saat aku di posisi yang sulit...
Maaf karena aku seringkali memaksakan kehendakku, padahal aku sendiri sudah tahu Engkau akan memberikan yang terbaik bagi hidupku...
Maaf karena aku sering melawan bisikanMu di saat aku sedang terlena dengan kenikmatan duniawi...
Maaf karena aku selalu mengecewakanmu, Bapa...
Maafkan aku...
Benar-benar maaf...
Bapa,
Aku sudah lelah dengan apa yang aku pikir dan aku rasakan...
Aku tak tahu lagi harus mengadu ke siapa...
Aku tak tahu lagi harus berkisah ke siapa...
Aku belum kuat, Bapa...
Aku masih rapuh...
Saat ini sangaaat rapuh...
Izinkan aku kembali padaMu, Bapa...
Aku ingin merasakan pelukanMu...
Sentuhan kasihMu selalu merambat ke setiap sudut diriku
Aku rindu itu, Bapa...
Aku-anakMu yang seringkali menjauh dariMu
Aku-anakMu yang suka tak patuh padaMu
menyerahkan hatiku seutuhnya padaMu, Bapa
Aku ingin Engkau yang menjaganya...
Maaf aku yang tak layak ini sudah lancang, Bapa...
dan maaf karena hati itu telah hancur...
Tapi bukan maksudku memberikan sesuatu yang sudah rusak kepadaMu, Bapa...
Aku hanya yakin Engkau yang dapat menjaganya-menahannya tetap utuh walaupun telah berupa kepingan...
Bapa,
Engkau yang lebih mengenal diriku...
Aku yakin Engkau tahu apa yang ingin aku katakan tapi tak bisa terucap di ruang pengakuan ini...
Bapa...Aku butuh Engkau.......selamanya.......
Maaf karena aku lebih sering datang dan dekat padaMu saat aku di posisi yang sulit...
Maaf karena aku seringkali memaksakan kehendakku, padahal aku sendiri sudah tahu Engkau akan memberikan yang terbaik bagi hidupku...
Maaf karena aku sering melawan bisikanMu di saat aku sedang terlena dengan kenikmatan duniawi...
Maaf karena aku selalu mengecewakanmu, Bapa...
Maafkan aku...
Benar-benar maaf...
Bapa,
Aku sudah lelah dengan apa yang aku pikir dan aku rasakan...
Aku tak tahu lagi harus mengadu ke siapa...
Aku tak tahu lagi harus berkisah ke siapa...
Aku belum kuat, Bapa...
Aku masih rapuh...
Saat ini sangaaat rapuh...
Izinkan aku kembali padaMu, Bapa...
Aku ingin merasakan pelukanMu...
Sentuhan kasihMu selalu merambat ke setiap sudut diriku
Aku rindu itu, Bapa...
Aku-anakMu yang seringkali menjauh dariMu
Aku-anakMu yang suka tak patuh padaMu
menyerahkan hatiku seutuhnya padaMu, Bapa
Aku ingin Engkau yang menjaganya...
Maaf aku yang tak layak ini sudah lancang, Bapa...
dan maaf karena hati itu telah hancur...
Tapi bukan maksudku memberikan sesuatu yang sudah rusak kepadaMu, Bapa...
Aku hanya yakin Engkau yang dapat menjaganya-menahannya tetap utuh walaupun telah berupa kepingan...
Bapa,
Engkau yang lebih mengenal diriku...
Aku yakin Engkau tahu apa yang ingin aku katakan tapi tak bisa terucap di ruang pengakuan ini...
Bapa...Aku butuh Engkau.......selamanya.......
Sabtu, 20 Agustus 2011
Filosofi Kelapa
Aku direngkuh
Aku dibawa
Kulitku dikupas dengan benda tajam itu
Harusnya sakit,
tapi ini masih permulaan.
Aku masih punya pelindung
Ya, serabutku-penghangatku.
Lalu ia mulai lagi
Serabutku dibuang
ia cabuti seenaknya-sesukanya.
Harusnya sakit,
tapi ini kuanggap fase kecil.
Aku masih punya pelindung
Ya, batokku-perisaiku.
Rupanya ia belum cukup puas
Ia hancurkan lagi batokku
Ia pukulkan goloknya ke arahku
Ia hantam aku dengan benda itu
hingga aku retak
dan kemudian pecah...
Aku menahan isiku di dalamnya-sebisaku
dagingku yang putih bersih,
pun ditemani air yang jernih.
Aku tak berdaya-sudah pecah.
Kau perusakku-aku tak benci kamu
tidak bisa benci lebih tepatnya.
Kubiarkan ia cabik isiku
menggoresnya-mengguratnya dengan benda tajam bersudut banyak
Aku mulai merasakan sakit.
Aku menatapnya.
Aku tidak menangis-menahannya.
Kuminta ia berhenti
dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan-tersirat.
tolong berhenti menggurat-gurat isiku ini untuk kau nikmati!
Ia tak sadar-tapi aku merasa
Ia tak tahu rasaku...
Setiap guratan ini mencabik kulit dalamku
kulit cokelat yang dilindungi daging putihku.
Ia tak mengerti-tapi aku terus merasa.
Ketika dagingku-nikmatnya habis,
ia baru sadar.
Tapi saat itu tiba,
aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi
Sudah tidak bisa merasa.
Masaku sudah habis
dan aku akan memulai dari awal lagi.
Awal yang baru.
Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang...
tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi...
Aku dibawa
Kulitku dikupas dengan benda tajam itu
Harusnya sakit,
tapi ini masih permulaan.
Aku masih punya pelindung
Ya, serabutku-penghangatku.
Lalu ia mulai lagi
Serabutku dibuang
ia cabuti seenaknya-sesukanya.
Harusnya sakit,
tapi ini kuanggap fase kecil.
Aku masih punya pelindung
Ya, batokku-perisaiku.
Rupanya ia belum cukup puas
Ia hancurkan lagi batokku
Ia pukulkan goloknya ke arahku
Ia hantam aku dengan benda itu
hingga aku retak
dan kemudian pecah...
Aku menahan isiku di dalamnya-sebisaku
dagingku yang putih bersih,
pun ditemani air yang jernih.
Aku tak berdaya-sudah pecah.
Kau perusakku-aku tak benci kamu
tidak bisa benci lebih tepatnya.
Kubiarkan ia cabik isiku
menggoresnya-mengguratnya dengan benda tajam bersudut banyak
Aku mulai merasakan sakit.
Aku menatapnya.
Aku tidak menangis-menahannya.
Kuminta ia berhenti
dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan-tersirat.
tolong berhenti menggurat-gurat isiku ini untuk kau nikmati!
Ia tak sadar-tapi aku merasa
Ia tak tahu rasaku...
Setiap guratan ini mencabik kulit dalamku
kulit cokelat yang dilindungi daging putihku.
Ia tak mengerti-tapi aku terus merasa.
Ketika dagingku-nikmatnya habis,
ia baru sadar.
Tapi saat itu tiba,
aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi
Sudah tidak bisa merasa.
Masaku sudah habis
dan aku akan memulai dari awal lagi.
Awal yang baru.
Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang...
tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi...
Rabu, 17 Agustus 2011
Embun Perasaan Tak Bertuan
Aku hanya raga yang hampa
berjalan tanpa arah menyusuri lorong kehidupan
lorongku masih panjang,
aku tahu.
tapi semua kisah ini
seakan menyuruhku cepat mengakhirinya
aku hanya sebutir embun perasaan
yang ingin cepat menetes
jatuh.
tapi apa
aku hanya berada di tempatku
tempat yang penuh arang luka
tempat di mana aku sadar
bahwa
aku hanya embun perasaan tak bertuan
aku hanya membanjiri hatiku sendiri
dengan rasa sakit
dengan tangis
dengan segalanya yang buatku puas sementara
tapi kemudian mematikan
aku menangis dalam diamku
aku menangis dalam tawaku
dalam doaku
dalam tidurku
bahkan dalam mimpiku-pipiku basah tanpa aku sadari
jangan sentuh hatiku lagi!
jangan sentuh!
tatap aku ke dalam mataku
rasakan jauh ke dalam hatiku
adakah luka ini tidak berpeluh?
bisakah kau-selain menghadirkan luka
juga menghadirkan tawa untukku
sekali saja, bisakah?
aku senang lihat kau bahagia
sungguh.
kau tersenyum dan tertawa dalam bahagiamu
dan....bahagianya
aku juga inginkan itu,
senyum dan tawamu yang hanya untukku...
aku menyayangimu, monyet brengsek..
sungguh sangat sayang....
kuterima kembali hatiku yang kau kembalikan hancur,
tapi kurasa kau masih perlu memperbaiki kerusakannya...
berjalan tanpa arah menyusuri lorong kehidupan
lorongku masih panjang,
aku tahu.
tapi semua kisah ini
seakan menyuruhku cepat mengakhirinya
aku hanya sebutir embun perasaan
yang ingin cepat menetes
jatuh.
tapi apa
aku hanya berada di tempatku
tempat yang penuh arang luka
tempat di mana aku sadar
bahwa
aku hanya embun perasaan tak bertuan
aku hanya membanjiri hatiku sendiri
dengan rasa sakit
dengan tangis
dengan segalanya yang buatku puas sementara
tapi kemudian mematikan
aku menangis dalam diamku
aku menangis dalam tawaku
dalam doaku
dalam tidurku
bahkan dalam mimpiku-pipiku basah tanpa aku sadari
jangan sentuh hatiku lagi!
jangan sentuh!
tatap aku ke dalam mataku
rasakan jauh ke dalam hatiku
adakah luka ini tidak berpeluh?
bisakah kau-selain menghadirkan luka
juga menghadirkan tawa untukku
sekali saja, bisakah?
aku senang lihat kau bahagia
sungguh.
kau tersenyum dan tertawa dalam bahagiamu
dan....bahagianya
aku juga inginkan itu,
senyum dan tawamu yang hanya untukku...
aku menyayangimu, monyet brengsek..
sungguh sangat sayang....
kuterima kembali hatiku yang kau kembalikan hancur,
tapi kurasa kau masih perlu memperbaiki kerusakannya...
Kilau
Esok pagi sulit menyapa
karena malam belum berbisik
dan senja...
masih dengan tersenyum,
terus menggantung di cakrawala.
awan korupsi,
masih dengan bebas
terus menari kesana-kemari
tertiup angin katanya.
tangis kemiskinan tanpa tanggapan
dari lemah menjadi lebih lemah
belum terdengar katanya.
dua dari sekian banyak hal
yang membuat sang permata tak berkilau
Redup.
Kini 66 tahun sudah ia diasah
setiap sisi telah ditilik
dan sudutnya dipastikan tajam
Kuat.
Dengan semakin matangnya ia,
maka semakin kokoh dan mantap pijakannya
mengusir awan kelabu yang menaungi
menghentikan tangis insani
dapatlah ia atasi.
Di dalam aku-di alam sadarku
juga alam bawah sadarku,
di mana pikiran tak terjaga,
hanya ada satu keyakinan
permata yang sempat redup ini
akan kembali berkilau
special for this precious day.. HUT RI ke-66! :)
karena malam belum berbisik
dan senja...
masih dengan tersenyum,
terus menggantung di cakrawala.
awan korupsi,
masih dengan bebas
terus menari kesana-kemari
tertiup angin katanya.
tangis kemiskinan tanpa tanggapan
dari lemah menjadi lebih lemah
belum terdengar katanya.
dua dari sekian banyak hal
yang membuat sang permata tak berkilau
Redup.
Kini 66 tahun sudah ia diasah
setiap sisi telah ditilik
dan sudutnya dipastikan tajam
Kuat.
Dengan semakin matangnya ia,
maka semakin kokoh dan mantap pijakannya
mengusir awan kelabu yang menaungi
menghentikan tangis insani
dapatlah ia atasi.
Di dalam aku-di alam sadarku
juga alam bawah sadarku,
di mana pikiran tak terjaga,
hanya ada satu keyakinan
permata yang sempat redup ini
akan kembali berkilau
special for this precious day.. HUT RI ke-66! :)
Minggu, 14 Agustus 2011
Syarat
Kalau kamu....
bisa lebih peduli kepadanya
bisa lebih setia
bisa menjaganya
ada untuknya setiap saat bahkan saat kamu sedang lelah sekalipun
mau mengorbankan apapun hanya untuk senyumnya
mau menerima dia apa adanya
mau menantang bahaya hanya untuk memberikan surprise di hari ulang tahunnya
rela menghabiskan waktumu untuk menghasilkan suatu prakarya yang sepenuh hati
rela menunggunya menyelesaikan suatu kegiatan tanpa ia ketahui
bisa lebih lama bersamanya dibanding saat dia bersamaku
bisa membuatnya melamarmu
ataupun bisa melakukan hal-hal lain yang lebih daripada apa yang aku lakukan,
Kamu boleh memilikinya....
tapi kalau tidak, kuharap dia menemukan orang yang lebih tepat. Dia katakan bukan aku. Ok bukan aku tapi mungkin juga bukan kamu. Terserah apa pendapatmu atau apa pendapat orang, karena aku berusaha untuk tidak peduli. Ya sulit memang untuk mengabaikan semuanya. Mengabaikan semua omongan atau rasa yang ada. Tapi yang aku tahu, aku hanya ingin dia bahagia. Dia-orang yang membuatku hancur entah berapa lama-tapi dia jugalah orang yang paling ingin kulihat bahagia.
kalau memang kamu terganggu dengan keberadaanku dan mau membuat aku melupakannya, tolong beritahu aku dahulu cara membuat sebuah berlian menjadi tak berharga dan tak diinginkan di mata orang-orang yang melihatnya. Kalau kamu memang bisa memberitahu caranya, akan kulupakan dia dengan mudahnya. Kalau tidak, tolong jangan buat aku membohongi hatiku lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena dia ibarat berlian dan aku ibarat orang-orang yang melihat berlian itu. Aku orang yang terpana melihat keindahan berlian yang berharga itu dan aku juga orang yang berharap dapat memilikinya...
bisa lebih peduli kepadanya
bisa lebih setia
bisa menjaganya
ada untuknya setiap saat bahkan saat kamu sedang lelah sekalipun
mau mengorbankan apapun hanya untuk senyumnya
mau menerima dia apa adanya
mau menantang bahaya hanya untuk memberikan surprise di hari ulang tahunnya
rela menghabiskan waktumu untuk menghasilkan suatu prakarya yang sepenuh hati
rela menunggunya menyelesaikan suatu kegiatan tanpa ia ketahui
bisa lebih lama bersamanya dibanding saat dia bersamaku
bisa membuatnya melamarmu
ataupun bisa melakukan hal-hal lain yang lebih daripada apa yang aku lakukan,
Kamu boleh memilikinya....
tapi kalau tidak, kuharap dia menemukan orang yang lebih tepat. Dia katakan bukan aku. Ok bukan aku tapi mungkin juga bukan kamu. Terserah apa pendapatmu atau apa pendapat orang, karena aku berusaha untuk tidak peduli. Ya sulit memang untuk mengabaikan semuanya. Mengabaikan semua omongan atau rasa yang ada. Tapi yang aku tahu, aku hanya ingin dia bahagia. Dia-orang yang membuatku hancur entah berapa lama-tapi dia jugalah orang yang paling ingin kulihat bahagia.
kalau memang kamu terganggu dengan keberadaanku dan mau membuat aku melupakannya, tolong beritahu aku dahulu cara membuat sebuah berlian menjadi tak berharga dan tak diinginkan di mata orang-orang yang melihatnya. Kalau kamu memang bisa memberitahu caranya, akan kulupakan dia dengan mudahnya. Kalau tidak, tolong jangan buat aku membohongi hatiku lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena dia ibarat berlian dan aku ibarat orang-orang yang melihat berlian itu. Aku orang yang terpana melihat keindahan berlian yang berharga itu dan aku juga orang yang berharap dapat memilikinya...
Jumat, 12 Agustus 2011
Gerbang Mimpi
Kamu tak tahu rasanya, karena kamu tak mengalaminya sendiri. Luka di dalam luka. Sakit di dalam sakit. Senyum hanyalah topeng di mana aku dapat bertahan sementara.
Setiap malam selalu begini. Dahulu air mata adalah jalan akhir. Menangis. Dan setelah itu lebih lega rasanya hati ini. Jiwa raga pun menjadi lelah dan untuk sementara tubuh ini dapat beristirahat-lepas dari alam sadar.
Tapi kini, ketika hati ini mulai beku, menangis bukanlah jalan akhir. Bahkan mungkin, menangis adalah jalan yang tak akan pernah aku lewati lagi. Hati ini sudah terlalu beku, kawan. Sudah mulai kebal. Air mata hanya akan mengintip dari balik pelupuk mata dan setelah itu bersembunyi kembali. Karena itulah hati ini tak pernah terasa lega lagi. Ada yang mengganjal dan seakan mendobrak-mencari jalan untuk keluar dan memecah keheningan.
Lepas dari alam sadar pun bukan lagi jalan yang mau kupilih. Di sana-di alam bawah sadar, berjuta-juta penyebab rasa sakit telah menunggu. Menunggu untuk menyakiti lagi si pemilik mimpi. Memang bukan dengan cara yang kasar dan frontal, melainkan lewat cara manis yang perlahan-lahan mulai menggerogoti. Kini aku takut, kawan. Aku takut tertidur. Karena di gerbang mimpiku, semua kenangan manis itu telah menunggu...
Setiap malam selalu begini. Dahulu air mata adalah jalan akhir. Menangis. Dan setelah itu lebih lega rasanya hati ini. Jiwa raga pun menjadi lelah dan untuk sementara tubuh ini dapat beristirahat-lepas dari alam sadar.
Tapi kini, ketika hati ini mulai beku, menangis bukanlah jalan akhir. Bahkan mungkin, menangis adalah jalan yang tak akan pernah aku lewati lagi. Hati ini sudah terlalu beku, kawan. Sudah mulai kebal. Air mata hanya akan mengintip dari balik pelupuk mata dan setelah itu bersembunyi kembali. Karena itulah hati ini tak pernah terasa lega lagi. Ada yang mengganjal dan seakan mendobrak-mencari jalan untuk keluar dan memecah keheningan.
Lepas dari alam sadar pun bukan lagi jalan yang mau kupilih. Di sana-di alam bawah sadar, berjuta-juta penyebab rasa sakit telah menunggu. Menunggu untuk menyakiti lagi si pemilik mimpi. Memang bukan dengan cara yang kasar dan frontal, melainkan lewat cara manis yang perlahan-lahan mulai menggerogoti. Kini aku takut, kawan. Aku takut tertidur. Karena di gerbang mimpiku, semua kenangan manis itu telah menunggu...
Selasa, 02 Agustus 2011
Kalau Iya Kalau Tidak
Aku ingin tahu
Bekerjakah karma?
Kalau iya,
Nanti ia akan datang ke siapa?
Aku ingin tahu
Apakah hati memang bisa bicara
Kalau tidak,
Mengapa ia merongrongku
Berteriak-teriak sekuat mungkin
Berharap ada jawaban
Dari semua luka yang dibuatnya
Untukku.
Hanya untukku kah?
Aku sajakah yang sakit?
Kalau iya, aku tak mau sakit lagi
Ambil saja hatiku
AMBIL!!!
Aku lebih memilih ini
Hidup mati rasa
Kebal.
Begini lebih baik.
Bekerjakah karma?
Kalau iya,
Nanti ia akan datang ke siapa?
Aku ingin tahu
Apakah hati memang bisa bicara
Kalau tidak,
Mengapa ia merongrongku
Berteriak-teriak sekuat mungkin
Berharap ada jawaban
Dari semua luka yang dibuatnya
Untukku.
Hanya untukku kah?
Aku sajakah yang sakit?
Kalau iya, aku tak mau sakit lagi
Ambil saja hatiku
AMBIL!!!
Aku lebih memilih ini
Hidup mati rasa
Kebal.
Begini lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)