Jumat, 12 Agustus 2011

Gerbang Mimpi

Kamu tak tahu rasanya, karena kamu tak mengalaminya sendiri. Luka di dalam luka. Sakit di dalam sakit. Senyum hanyalah topeng di mana aku dapat bertahan sementara.

Setiap malam selalu begini. Dahulu air mata adalah jalan akhir. Menangis. Dan setelah itu lebih lega rasanya hati ini. Jiwa raga pun menjadi lelah dan untuk sementara tubuh ini dapat beristirahat-lepas dari alam sadar.

Tapi kini, ketika hati ini mulai beku, menangis bukanlah jalan akhir. Bahkan mungkin, menangis adalah jalan yang tak akan pernah aku lewati lagi. Hati ini sudah terlalu beku, kawan. Sudah mulai kebal. Air mata hanya akan mengintip dari balik pelupuk mata dan setelah itu bersembunyi kembali. Karena itulah hati ini tak pernah terasa lega lagi. Ada yang mengganjal dan seakan mendobrak-mencari jalan untuk keluar dan memecah keheningan.

Lepas dari alam sadar pun bukan lagi jalan yang mau kupilih. Di sana-di alam bawah sadar, berjuta-juta penyebab rasa sakit telah menunggu. Menunggu untuk menyakiti lagi si pemilik mimpi. Memang bukan dengan cara yang kasar dan frontal,  melainkan lewat cara manis yang perlahan-lahan mulai menggerogoti. Kini aku takut, kawan. Aku takut tertidur. Karena di gerbang mimpiku, semua kenangan manis itu telah menunggu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar