Sabtu, 20 Agustus 2011

Filosofi Kelapa

Aku direngkuh
Aku dibawa
Kulitku dikupas dengan benda tajam itu
Harusnya sakit,
tapi ini masih permulaan.
Aku masih punya pelindung
Ya, serabutku-penghangatku.
Lalu ia mulai lagi
Serabutku dibuang
ia cabuti seenaknya-sesukanya.
Harusnya sakit,
tapi ini kuanggap fase kecil.
Aku masih punya pelindung
Ya, batokku-perisaiku.
Rupanya ia belum cukup puas
Ia hancurkan lagi batokku
Ia pukulkan goloknya ke arahku
Ia hantam aku dengan benda itu
hingga aku retak
dan kemudian pecah...
Aku menahan isiku di dalamnya-sebisaku
dagingku yang putih bersih,
pun ditemani air yang jernih.
Aku tak berdaya-sudah pecah.
Kau perusakku-aku tak benci kamu
tidak bisa benci lebih tepatnya.
Kubiarkan ia cabik isiku
menggoresnya-mengguratnya dengan benda tajam bersudut banyak
Aku mulai merasakan sakit.
Aku menatapnya.
Aku tidak menangis-menahannya.
Kuminta ia berhenti
dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan-tersirat.
tolong berhenti menggurat-gurat isiku ini untuk kau nikmati!
Ia tak sadar-tapi aku merasa
Ia tak tahu rasaku...
Setiap guratan ini mencabik kulit dalamku
kulit cokelat yang dilindungi daging putihku.
Ia tak mengerti-tapi aku terus merasa.
Ketika dagingku-nikmatnya habis,
ia baru sadar.
Tapi saat itu tiba,
aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi
Sudah tidak bisa merasa.
Masaku sudah habis
dan aku akan memulai dari awal lagi.
Awal yang baru.
Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang...
tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar