dalam butaku, aku hanya dibimbing perasaan
hanya perasaan inilah yang aku ikuti
ke manapun ia ingin berlari
ke manapun ia mengajakku pergi.
Aku dalam butaku,
hanya peka di dalam tanpa melihat.
Namun kutahu saat dewa anggur datang
ia sudah seperti bagian dari diriku sendiri
Aromanya khas
Derap langkahnya kukenal
Suaranya aku suka.
Dewa anggur memilih tempat.
Ia pilih yang terdalam.
Menyelinap sedalam mungkin.
Ia tumpahkan anggurnya
bukan buah tapi cairan
cairan agak kental nan nikmat
Manis.
Ya, manis.
Aku rasakan terus
Aku nikmati
sampai suatu hari kusadari
ia telah menumpahkah cairan itu ke seluruh diriku
perlahan tapi pasti,
aku terus merasakan cairan itu
Manis.
Ya, manis.
Tapi semakin lama aku rasakan,
aku baru sadar
bahwa manis itu hanya di awal
bahwa manis itu hanya sementara
mungkin kamuflase.
atau mungkin juga fatamorgana di padang pasir.
karena apa yang aku rasa....
bukanlah manis.
setetes pun bukan!
Hanya asam kecut, pahit, dan rasa panas yang ada
Cicipi saja!
Lalu kalau kau bisa,
suruh dewa anggur itu pergi!
Kalau kau bisa.
Ya, kalau kau bisa dan belum ketagihan oleh manis pemberiannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar