Senin, 03 Oktober 2011

Paksaan Waktu

Puisi ini murni pembelajaran awal buat menghasilkan suatu karya yang dewasa, walaupun udah pasti ga sedewasa karya Djenar Maesa Ayu..
Setidaknya gw bisa belajar banyak dengan cara menuangkan langsung apa yang gw pikir dan rasakan. Salah itu urusan kedua.. Yang pasti, puisi ini juga buat nepatin janji gw ke Debby yang sebelumnya udah lebih dulu berani menulis terbuka tentang hal-hal yang bisa dibilang dewasa.. Jika pikiranmu udah melantur kemana-mana, jangan salah paham untuk puisi yang satu ini. Karena ini hanyalah wujud estetika seni :)
---
ketika itu..
tatapan adalah cara kita berkomunikasi
dan senyum..
senyum adalah ungkapan kebahagiaan milik kita
hanya kita berdua..
pipiku bersemu merah ketika jemarimu mengusapnya
lembut..
adakah yang salah saat itu?
antara ya dan tidak.
yang pasti gemuruh dan gejolak di dalam hatiku
memintaku lebih dekat kepadamu..
walau sempat ragu, kupeluk juga dirimu
lenganmu yang nyaman balas memelukku
erat..
kubenamkan kepalaku di dadamu
tenang..
nyaman..
hingga aku sulit melepasnya
aku berdoa agar rasa ini tiada akhir
rasaku dan rasamu..
rasa sayang milik kita berdua
rasa yang kuharap dapat menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya
aku mendongak-menatapmu
berkomunikasi..
tanganmu bergetar ketika menyentuh daguku
menaikkannya perlahan dan kemudian menyentuhkan lembut bibir kita
bibirmu-bibirku menyatu selayaknya hati kita saat itu
kulingkarkan lenganku di lehermu dan bahagia menerpaku
aku percaya padamu
percaya bahwa kau akan menjagaku,
selayaknya aku yang juga berusaha menjagamu
menjaga diri dan hati.
diri untuk kupersembahkan padamu nanti.
hati untukmu seutuhnya,
mulus, tak bercela.
aku berada di dekapanmu sekarang
tapi itu ragaku..
sebab otakku berusaha berpikir jernih,
berjuang menjinakkan gemuruh dan gejolakku
aku hanya ingin berada di dekapanmu lebih lama lagi
merasa nyaman. nyaman. dan nyaman.
hanya itu.
tidak boleh lebih untuk saat ini.
kau mengelus lembut rambutku..
aku menatapmu,
berkomunikasi lagi.
bahagiaku mengucur deras,
sederas air yang mengucur dari lubang di sisi dua tebing suci
air mata pun bertingkah,
berlomba-lomba keluar untuk ungkapkan bahagianya..
bisa kulihat wajah panikmu melihat aku menangis
kau katupkan kedua tanganmu di pipiku,
sementara dua ibu jarimu bekerja menghapus air mataku..
dapat kurasakan detak jantung kita yang tidak beraturan
gemuruh dan gejolak itu ternyata sama-sama memburu..
sama-sama sulit dijinakkan-ditenangkan..
ketika semua bahagia ini direbut,
dipaksa waktu untuk direngkuh,
aku menunggu di sini..
di tempat nyaman nan empuk ini,
sebab kuyakin paksaan waktu akan berhenti
dan semua milikku akan kembali..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar