Ibu...aku sangat rindukan senyummu
senyum itu mengisi hati sejak pertama kali kita saling menatap
senyum yang selalu hadir di sela pembicaraan kita sebagai keluarga
antara aku-ibu-vivi-ayah.
tak pernah sekalipun ada keluh kesah terlontar darimu
hanya senyum dan senyum
seakan senyum itu adalah makananku
makanan untuk hati dan jiwaku...
Ibu...
katakan sakit jika kakimu memang sakit
jangan paksakan tersenyum seakan tak ada apa-apa
aku akan carikan obat untuk sembuhkanmu
akan kukirimkan segera sesuai kebutuhanmu
Ibuku...kenapa ragu untuk sentuh aku, anakmu?
Kita tak berjarak secara emosional dan hati
hanya istilah kota dan desa saja yang menjadi jarak
tapi istilah itu bukan penghalang,
mereka menjembatani kita
menjembatani kasih sayang di antara anak dan ibu
yang walaupun terpisah jauh,
hatinya akan terus menyatu
Ibu...terima kasih sudah izinkan aku cium pipi lembutmu
pipi yang menghantarkan getar kasih sayang dari senyumanmu
terima kasih sudah mau balas memeluk dan menciumku
tapi kenapa tidak sejak awal saja ibu sentuh dan peluk aku
jangan ragu lagi ibu,
aku anakmu...
kau bebas perlakukan aku dengan kasih sayangmu
aku mencoba dekat dan duduk di sebelahmu,
jangan lagi kau mencoba menjauh, ibu...
karena aku tak membeda-bedakanmu
desa dan kota hanyalah istilah
istilah yang seharusnya tidak berhak menjauhkan kita
Ibuku..aku tak sanggup penuhi permintaanmu
"jangan nangis lagi, nanti ibu ikutan nangis"
aku sudah coba, bu...
aku coba tak menangis saat aku dan vivi memelukmu
kucoba benamkan sedihku pada tawa
tapi mulut hanya keluarkan tawa palsu,
karena mata tak mau menurut dan tetap keluarkan butiran air mata
vivi menangis.
aku menangis.
kau menangis.
kita berpelukan semakin erat.
kau bisikkan padaku permintaanmu.
tangisku pecah semakin parah.
kau pun semakin menangis.
vivi juga begitu.
lalu kita bertiga sama-sama mencoba untuk tersenyum, tertawa, dan menghentikan air mata
tissue menemani kita menyeka air mata.
kita ubah topik; mencari ayah.
ayah ada di seberang sana-menjauh dari kita sejak tadi tapi terlihat murung
ayah menyeka air mata-benarkah yang kulihat?
ibu mengalihkan perhatianku dan vivi pada ayah.
ibu menghindari pecahnya tangis lagi.
terima kasih banyak bu atas semua sajian lezat darimu
atas daun sirihmu saat vivi terus-menerus mimisan
atas ajaranmu rabok letong dan nge-gatul
atas semuanya...
ibu...sudah baca surat itu, kan..?
aku menyayangimu...
sungguh amat sayang...
kini aku kembali pulang dahulu,
tapi percayalah bahwa aku akan kembali memelukmu erat dan saksikan senyumanmu lagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar