Muka ia bosan.
Mukanya pun bosan.
Muka yang lain pun sama bosannya.
Teman-teman bosan.
Bosan pada rintihanku.
Bosan pada hatiku.
Serentak mereka menutup kuping walau mata masih menatapku.
Tak mereka katakan, tapi aku tahu...
Kini setelah kehilangan pilar nyaman yang ingin kupeluk,
perlahan aku pun kehilangan pemberi warna di hidupku.
Teman, sahabat, aku tahu kalian bosan pada kelemahanku.
Seberapa besar pun kalian coba tuk memahami,
aku tetap merasa kehilangan kalian.
kalian sudah bosan mendengarku lagi,
karena aku bukanlah aku.
Kalian hampir membawaku ke psikiater ya?hahaha...
Terima kasih kawan atas perhatiannya...
Keadaanku seburuk itu ya?
sampai hasil tes pun menyuruhku pergi ke tempat yang sama.
Sekarang aku takut hati orang tuaku sakit seperti katamu.
Telah kututupi semuanya demi mereka.
Tapi aku bagian dirinya,
aku khawatir mereka ikut merasakannya...
Maaf...
Karena aku bukanlah aku.
Apa yang kalian lihat dari lukaku hanyalah hal minor.
ada hal mayor di bagian terdalamnya.
Ingin rasanya berteriak menyuarakan semua.
Tapi aku adalah aku...
Aku menikmatinya sendiri...semuanya...
tapi kini aku mulai merana menjahit luka dalam kesendirian tanpa ditemani waktu,
seakan semuanya tiada akhir.
Aku lelah memaksa senyum.
Aku runtuh jika harus terus-menerus membuat tawa dalam kepedihan.
Hal minor dan mayor tak terpisahkan,
dan karena itulah aku hanya boleh berteriak di setiap sepi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar