Kau hanyalah lagu bergenre lain
bukan yang membuat galau
Kau hanyalah air yang suhunya lebih sejuk
bukan yang biasa kudapat dari keran
karena kau turun langsung dari air terjun
Aku suka tawamu,
seakan tak ada beban
Tulang pipimu tegas,
buatmu tampak dewasa dan bersahaja
Kau macho
Tak tahu kenapa aku bilang begitu
Definisi macho saja masih ambigu dalam benakku
Tapi yang pasti kata itu cocok buatmu
Dasar tampan.
Kendarai kuda putihmu
Temuilah putri yang sepadan denganmu
yang akan hargai hatimu selayaknya ia hargai wajahmu
Karena aku di sini
tak inginkanmu
Aku hanya menggantungkan senang lewat senangmu
Pun aku menyender pada tegasmu biar tak lemah
Kau adik kelasku
Ingat ada status ini.
Sekali lagi kupastikan dan kukatakan
Aku tak inginkanmu
Aku hanya mencuri secuil harap dari senyumanmu
Hanya itu.
Terima kasih.
Minggu, 16 Oktober 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
Janji Waktu
Hujan..
Maukah kau bawa diriku mengalir bersama air jatuhanmu?
Maukah kau ajari aku makna dari setiap desahan jiwamu?
Hujan oh hujan..
Bawalah sahabat-sahabatku menuju kebahagiaan
Jangan jatuhi mereka dengan segenap perasaan cinta yang palsu,
cinta yang sakit.
Tolong jangan.
Karena aku disini tak bisa menggapai mereka
Tak bisa menyeberangi kabut ilusi jarak yang pilu
Hujan..
Sejak dulu raganya dan ragaku memang terpisah
Tetapi waktu menanamkan hati ini padanya
Membuatnya menyatu.
Aku bertanya-tanya saat ia pergi
Aku merasa kehilangan segalanya
Hujan tolong banjiri aku dengan basahmu!
Buat aku sadar betapa kotornya diriku
Buat aku semakin sadar betapa bodohnya aku tetap menunggu
Menunggu senyumnya sambil berlapang dada untuk disakiti lagi
Jiwa dan ragaku bodoh telah saling mencabik
Membuat perih penglihatan
Membuat perih hati
Hujan bawalah sahabat-sahabatku keluar dari belenggu kelabu
bawa mereka terbang ke inti sejuk kalbumu
Aku tak ingin mereka disakiti
Hujan..
Naungi mereka dengan pelangi kasih abadi
Sampai suatu saat nanti seseorang mengatakan pada mereka
"Kaulah tulang rusukku yang hilang dan telah lama kucari"
Bantu aku, hujan..
Lingkupi aku terus dalam dirimu yang basah
samarkan air mata penantian yang terus terjaga ini
suatu saat kuingin lihat sahabat-sahabatku bahagia,
meskipun aku masih dalam penantian janji waktu..
Maukah kau bawa diriku mengalir bersama air jatuhanmu?
Maukah kau ajari aku makna dari setiap desahan jiwamu?
Hujan oh hujan..
Bawalah sahabat-sahabatku menuju kebahagiaan
Jangan jatuhi mereka dengan segenap perasaan cinta yang palsu,
cinta yang sakit.
Tolong jangan.
Karena aku disini tak bisa menggapai mereka
Tak bisa menyeberangi kabut ilusi jarak yang pilu
Hujan..
Sejak dulu raganya dan ragaku memang terpisah
Tetapi waktu menanamkan hati ini padanya
Membuatnya menyatu.
Aku bertanya-tanya saat ia pergi
Aku merasa kehilangan segalanya
Hujan tolong banjiri aku dengan basahmu!
Buat aku sadar betapa kotornya diriku
Buat aku semakin sadar betapa bodohnya aku tetap menunggu
Menunggu senyumnya sambil berlapang dada untuk disakiti lagi
Jiwa dan ragaku bodoh telah saling mencabik
Membuat perih penglihatan
Membuat perih hati
Hujan bawalah sahabat-sahabatku keluar dari belenggu kelabu
bawa mereka terbang ke inti sejuk kalbumu
Aku tak ingin mereka disakiti
Hujan..
Naungi mereka dengan pelangi kasih abadi
Sampai suatu saat nanti seseorang mengatakan pada mereka
"Kaulah tulang rusukku yang hilang dan telah lama kucari"
Bantu aku, hujan..
Lingkupi aku terus dalam dirimu yang basah
samarkan air mata penantian yang terus terjaga ini
suatu saat kuingin lihat sahabat-sahabatku bahagia,
meskipun aku masih dalam penantian janji waktu..
Senin, 03 Oktober 2011
Paksaan Waktu
Puisi ini murni pembelajaran awal buat menghasilkan suatu karya yang dewasa, walaupun udah pasti ga sedewasa karya Djenar Maesa Ayu..
Setidaknya gw bisa belajar banyak dengan cara menuangkan langsung apa yang gw pikir dan rasakan. Salah itu urusan kedua.. Yang pasti, puisi ini juga buat nepatin janji gw ke Debby yang sebelumnya udah lebih dulu berani menulis terbuka tentang hal-hal yang bisa dibilang dewasa.. Jika pikiranmu udah melantur kemana-mana, jangan salah paham untuk puisi yang satu ini. Karena ini hanyalah wujud estetika seni :)
tatapan adalah cara kita berkomunikasi
dan senyum..
senyum adalah ungkapan kebahagiaan milik kita
hanya kita berdua..
pipiku bersemu merah ketika jemarimu mengusapnya
lembut..
adakah yang salah saat itu?
antara ya dan tidak.
yang pasti gemuruh dan gejolak di dalam hatiku
memintaku lebih dekat kepadamu..
walau sempat ragu, kupeluk juga dirimu
lenganmu yang nyaman balas memelukku
erat..
kubenamkan kepalaku di dadamu
tenang..
nyaman..
hingga aku sulit melepasnya
aku berdoa agar rasa ini tiada akhir
rasaku dan rasamu..
rasa sayang milik kita berdua
rasa yang kuharap dapat menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya
aku mendongak-menatapmu
berkomunikasi..
tanganmu bergetar ketika menyentuh daguku
menaikkannya perlahan dan kemudian menyentuhkan lembut bibir kita
bibirmu-bibirku menyatu selayaknya hati kita saat itu
kulingkarkan lenganku di lehermu dan bahagia menerpaku
aku percaya padamu
percaya bahwa kau akan menjagaku,
selayaknya aku yang juga berusaha menjagamu
menjaga diri dan hati.
diri untuk kupersembahkan padamu nanti.
hati untukmu seutuhnya,
mulus, tak bercela.
aku berada di dekapanmu sekarang
tapi itu ragaku..
sebab otakku berusaha berpikir jernih,
berjuang menjinakkan gemuruh dan gejolakku
aku hanya ingin berada di dekapanmu lebih lama lagi
merasa nyaman. nyaman. dan nyaman.
hanya itu.
tidak boleh lebih untuk saat ini.
kau mengelus lembut rambutku..
aku menatapmu,
berkomunikasi lagi.
bahagiaku mengucur deras,
sederas air yang mengucur dari lubang di sisi dua tebing suci
air mata pun bertingkah,
berlomba-lomba keluar untuk ungkapkan bahagianya..
bisa kulihat wajah panikmu melihat aku menangis
kau katupkan kedua tanganmu di pipiku,
sementara dua ibu jarimu bekerja menghapus air mataku..
dapat kurasakan detak jantung kita yang tidak beraturan
gemuruh dan gejolak itu ternyata sama-sama memburu..
sama-sama sulit dijinakkan-ditenangkan..
ketika semua bahagia ini direbut,
dipaksa waktu untuk direngkuh,
aku menunggu di sini..
di tempat nyaman nan empuk ini,
sebab kuyakin paksaan waktu akan berhenti
dan semua milikku akan kembali..
Setidaknya gw bisa belajar banyak dengan cara menuangkan langsung apa yang gw pikir dan rasakan. Salah itu urusan kedua.. Yang pasti, puisi ini juga buat nepatin janji gw ke Debby yang sebelumnya udah lebih dulu berani menulis terbuka tentang hal-hal yang bisa dibilang dewasa.. Jika pikiranmu udah melantur kemana-mana, jangan salah paham untuk puisi yang satu ini. Karena ini hanyalah wujud estetika seni :)
---
ketika itu..tatapan adalah cara kita berkomunikasi
dan senyum..
senyum adalah ungkapan kebahagiaan milik kita
hanya kita berdua..
pipiku bersemu merah ketika jemarimu mengusapnya
lembut..
adakah yang salah saat itu?
antara ya dan tidak.
yang pasti gemuruh dan gejolak di dalam hatiku
memintaku lebih dekat kepadamu..
walau sempat ragu, kupeluk juga dirimu
lenganmu yang nyaman balas memelukku
erat..
kubenamkan kepalaku di dadamu
tenang..
nyaman..
hingga aku sulit melepasnya
aku berdoa agar rasa ini tiada akhir
rasaku dan rasamu..
rasa sayang milik kita berdua
rasa yang kuharap dapat menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya
aku mendongak-menatapmu
berkomunikasi..
tanganmu bergetar ketika menyentuh daguku
menaikkannya perlahan dan kemudian menyentuhkan lembut bibir kita
bibirmu-bibirku menyatu selayaknya hati kita saat itu
kulingkarkan lenganku di lehermu dan bahagia menerpaku
aku percaya padamu
percaya bahwa kau akan menjagaku,
selayaknya aku yang juga berusaha menjagamu
menjaga diri dan hati.
diri untuk kupersembahkan padamu nanti.
hati untukmu seutuhnya,
mulus, tak bercela.
aku berada di dekapanmu sekarang
tapi itu ragaku..
sebab otakku berusaha berpikir jernih,
berjuang menjinakkan gemuruh dan gejolakku
aku hanya ingin berada di dekapanmu lebih lama lagi
merasa nyaman. nyaman. dan nyaman.
hanya itu.
tidak boleh lebih untuk saat ini.
kau mengelus lembut rambutku..
aku menatapmu,
berkomunikasi lagi.
bahagiaku mengucur deras,
sederas air yang mengucur dari lubang di sisi dua tebing suci
air mata pun bertingkah,
berlomba-lomba keluar untuk ungkapkan bahagianya..
bisa kulihat wajah panikmu melihat aku menangis
kau katupkan kedua tanganmu di pipiku,
sementara dua ibu jarimu bekerja menghapus air mataku..
dapat kurasakan detak jantung kita yang tidak beraturan
gemuruh dan gejolak itu ternyata sama-sama memburu..
sama-sama sulit dijinakkan-ditenangkan..
ketika semua bahagia ini direbut,
dipaksa waktu untuk direngkuh,
aku menunggu di sini..
di tempat nyaman nan empuk ini,
sebab kuyakin paksaan waktu akan berhenti
dan semua milikku akan kembali..
Sabtu, 24 September 2011
Ayah Purwanto
Kau galak dan tidak asik.
Itulah perkiraan pertamaku tentangmu,
hingga aku berharap tidak menjadi anakmu di live in saat itu
tapi semua angan lenyap ketika namaku dan Vivi dipanggil
Oke, sejak saat itu, kaulah ayahku...
Kita arungi jalan yang sangat menurun itu sambil berceloteh riang
Hmm lebih tepatnya kau yang berkisah tentang Candi Risan,
sementara anakmu ini-aku dan Vivi sibuk mendengar sambil merangkai pertanyaan selanjutnya.
Aku menoleh ke kanan.
Dan di bawah sana seperti ada kerajaan pohon bambu
Mereka melengkung dari kedua sisi-kanan dan kiri,
hingga seperti membentuk sebuah gerbang
Kupanggil Vivi pelan-pelan dan kupasang wajah khawatir
Vivi mengerti maksudku.
Ia tahu aku takut jika harus tinggal di rumah dengan banyak pohon bambu seperti itu
Tapi kami terus melangkah sambil membawa perkiraan tentang rumah kami nanti
Pikiran aku dan Vivi sama: rumah kami sederhana.
Tidak murni gubuk namun juga tidak modern.
Jalan mulai datar dan di samping jalan sebelah kiri telah berdiri seorang ibu
Hatiku dan hati Vivi serempak menyayangi ibu yang tersenyum ramah itu
Sekilas kami ingin memiliki ibu itu sebagai ibu kami di Candirejo ini.
Tapi, siapakah sangka akan terjadi?
Ayah berbelok ke kiri-ke arah rumah itu,
namun kami tidak melihat.
langkah kami tak terhenti dan terus berjalan lurus
Ayah memanggil.
Kami menoleh dan ayah mengatakan ini adalah rumah kami.
Seperti boneka, aku dan Vivi hanya mengikuti langkahmu, ayah...
Lalu kamu terhenti lagi ketika akan memasuki rumah itu
Lantai dalamnya sudah keramik.
Aku dan Vivi saling berpandangan.
Perlu kuakui, saat itu aku kecewa.
"Harusnya rumahku sederhana..."batinku.
Rumah itu terlalu mewah untuk live in kami.
Kami pun masuk sambil mengagumi isinya.
Mewah untuk ukuran sebuah desa.
Sangat mewah lebih tepatnya.
Ketika ayah dan ibu tak melihat,
aku menunjuk-nunjuk ke arah sofa modern dengan hebohnya walau tanpa suara
Di ruang lainnya, percakapan kita sebagai keluarga pun dimulai...
Rumahmu sungguh luas, ayah...
Kamar yang kauberi juga luas
Ayah...
Selama 4 hari kami di sana, kami sadar kau sungguh tegas
sejujurnya aku dan Vivi takut jika di depanmu.
kau tidak seram, tapi sesuatu dalam dirimu seakan membekukan kami
Membuat kami lebih sopan tentunya...hehehe...
Kau beri aku makna hidup dalam ajaran agama,
kau ajari aku untuk memperhitungkan sesuatu dengan matang,
kau ajari aku cara memlinting rokok
dan banyak hal lain yang tak terungkapkan
Lalu di hari terakhir itu,
ketika dari rumah Vivi sudah mulai menangis sedikit,
aku hanya menenangkan tanpa rasa sedih
Ketika ibu menyuruh kami cepat berangkat karena semua sudah ke kapel,
ayah menahan...
Dari situlah kami menangkap maksud hatimu, ayah...
Kau menyayangi kami dan tidak ingin kami cepat pergi...
Dan untuk itulah kami mencoba bertahan sedikit lebih lama di rumah itu
Hingga kami pun sampai agak belakangan di kapel
Ayah,
engkau selalu memisahkan diri dari aku, ibu, dan Vivi ketika moment sedih
Tak perlu ditutupi, ayah...
Kami tahu kau sedih...
Kami tahu saat kau berusaha menahan tangis,
atau saat kau mengusap matamu yang berkaca-kaca...
Ayah, awalnya aku ragu untuk memelukmu ketika perpisahan...
Kulihat Vivi tak memelukmu juga,
tapi rasa sayangku mematahkan ego dan rasa malu milikku
Kupeluk kau, ayah...
Tak banyak kata terucap,
hanya terima kasih dan maaf yang meluncur dari mulutku
Namun seuntai kalimat darimu telah membawa diriku memelukmu lebih erat, ayah...
Dan air mataku pun meluncur lebih banyak dibandingkan percakapan terakhir kita itu...
Selamat tinggal, ayah...
kuharap dapat mengunjungimu lagi...
Hanya lambaian tanganmu yang kulihat terkhir kali dari atas truk
Aku mencoba melihat wajahmu sekali lagi,
tapi tidak bisa.
Aku terdesak di tengah di antara teman-teman dan tas bawaan yang ada
Aku bahkan tak punya pegangan untuk menahan keseimbanganku
karena itu, aku berusaha berjinjit setinggi mungkin dan melambaikan tanganku padamu...
Ku harap kau melihat lambaian itu...
Sampai bertemu lagi, ayah...
Aku sangat menyayangimu.......
Kamis, 22 September 2011
Unpredictable
Suatu hari ketika gw lagi di ulang tahun temen gereja gw, Lydia, seorang sahabat gw memberitahu gw sesuatu dari handphone miliknya. Gw disuruhnya membaca tulisan yang cukup panjang itu dan hasilnya sangat membuat gw dan sahabat gw yang lainnya shock.
Ini gw post isinya tanpa ada perubahan pada kata ataupun grammar, karena gw merasa ga berhak buat merubah apapun dan merasa kurang kompeten memperbaiki grammar-nya. So, just read and enjoy this sharing...
FOOLISH GIRL
you know I hurt a lot
my heart is absolutely broke
when you chose her instead of me
but now you know she's worth
for nothing
you make my heart drop by just saying hi
I hate to admit it, but you're still amazing
I'm not sure if we could ever be together
but you know what? I still love you anyway
how can I over you when I know loving you is like breathing
how can I stop? please tell me,
how can I?
yes I'm the foolish girl
who in love with a boy who did hurt my heart
I just want you to know that I honestly try my hardest everyday
but surely you know I can't
I would never ever able to erase you from my heart
cause you know I'm the foolish girl
you stayed in my heart without even invited
and now you told me to move on and forget about you
the only problem is that a heart doesn't forget something like that
if tomorrow never come
would you know how much I love you?
cause I love you for whatever you are, whatever you were, and whatever you will be
sometimes I just let the music take me away
it blocks all thoughts of the problems I have in reality
you're the single reason of every single day I passed through my sad and happiness
because you're absolutely breathtakingly, heartstoppingly amazing
and I'm just the foolish girl who trapped in your love game
Ini gw post isinya tanpa ada perubahan pada kata ataupun grammar, karena gw merasa ga berhak buat merubah apapun dan merasa kurang kompeten memperbaiki grammar-nya. So, just read and enjoy this sharing...
FOOLISH GIRL
you know I hurt a lot
my heart is absolutely broke
when you chose her instead of me
but now you know she's worth
for nothing
you make my heart drop by just saying hi
I hate to admit it, but you're still amazing
I'm not sure if we could ever be together
but you know what? I still love you anyway
how can I over you when I know loving you is like breathing
how can I stop? please tell me,
how can I?
yes I'm the foolish girl
who in love with a boy who did hurt my heart
I just want you to know that I honestly try my hardest everyday
but surely you know I can't
I would never ever able to erase you from my heart
cause you know I'm the foolish girl
you stayed in my heart without even invited
and now you told me to move on and forget about you
the only problem is that a heart doesn't forget something like that
if tomorrow never come
would you know how much I love you?
cause I love you for whatever you are, whatever you were, and whatever you will be
sometimes I just let the music take me away
it blocks all thoughts of the problems I have in reality
you're the single reason of every single day I passed through my sad and happiness
because you're absolutely breathtakingly, heartstoppingly amazing
and I'm just the foolish girl who trapped in your love game
Senin, 19 September 2011
ein Brief
Lieber EH,
Grüezi! Ich bin dein Freundin (nicht)...
Ich vermisse dich sooooooo viel!
Natürlich du bist in Sprachklasse nicht...Aber ich hoffe, dass du gut bist in deine Klasse...
Ich liebe dich...
Bitte ruf mich an oder kannst du mit mir treffen?ich vermisse dein Lächeln.. :(
:)
Liebe,
EL
Grüezi!
Natürlich du bist in Sprachklasse nicht...Aber ich hoffe, dass du gut bist in deine Klasse...
:)
Liebe,
EL
Minor dan Mayor
Muka ia bosan.
Mukanya pun bosan.
Muka yang lain pun sama bosannya.
Teman-teman bosan.
Bosan pada rintihanku.
Bosan pada hatiku.
Serentak mereka menutup kuping walau mata masih menatapku.
Tak mereka katakan, tapi aku tahu...
Kini setelah kehilangan pilar nyaman yang ingin kupeluk,
perlahan aku pun kehilangan pemberi warna di hidupku.
Teman, sahabat, aku tahu kalian bosan pada kelemahanku.
Seberapa besar pun kalian coba tuk memahami,
aku tetap merasa kehilangan kalian.
kalian sudah bosan mendengarku lagi,
karena aku bukanlah aku.
Kalian hampir membawaku ke psikiater ya?hahaha...
Terima kasih kawan atas perhatiannya...
Keadaanku seburuk itu ya?
sampai hasil tes pun menyuruhku pergi ke tempat yang sama.
Sekarang aku takut hati orang tuaku sakit seperti katamu.
Telah kututupi semuanya demi mereka.
Tapi aku bagian dirinya,
aku khawatir mereka ikut merasakannya...
Maaf...
Karena aku bukanlah aku.
Apa yang kalian lihat dari lukaku hanyalah hal minor.
ada hal mayor di bagian terdalamnya.
Ingin rasanya berteriak menyuarakan semua.
Tapi aku adalah aku...
Aku menikmatinya sendiri...semuanya...
tapi kini aku mulai merana menjahit luka dalam kesendirian tanpa ditemani waktu,
seakan semuanya tiada akhir.
Aku lelah memaksa senyum.
Aku runtuh jika harus terus-menerus membuat tawa dalam kepedihan.
Hal minor dan mayor tak terpisahkan,
dan karena itulah aku hanya boleh berteriak di setiap sepi...
Mukanya pun bosan.
Muka yang lain pun sama bosannya.
Teman-teman bosan.
Bosan pada rintihanku.
Bosan pada hatiku.
Serentak mereka menutup kuping walau mata masih menatapku.
Tak mereka katakan, tapi aku tahu...
Kini setelah kehilangan pilar nyaman yang ingin kupeluk,
perlahan aku pun kehilangan pemberi warna di hidupku.
Teman, sahabat, aku tahu kalian bosan pada kelemahanku.
Seberapa besar pun kalian coba tuk memahami,
aku tetap merasa kehilangan kalian.
kalian sudah bosan mendengarku lagi,
karena aku bukanlah aku.
Kalian hampir membawaku ke psikiater ya?hahaha...
Terima kasih kawan atas perhatiannya...
Keadaanku seburuk itu ya?
sampai hasil tes pun menyuruhku pergi ke tempat yang sama.
Sekarang aku takut hati orang tuaku sakit seperti katamu.
Telah kututupi semuanya demi mereka.
Tapi aku bagian dirinya,
aku khawatir mereka ikut merasakannya...
Maaf...
Karena aku bukanlah aku.
Apa yang kalian lihat dari lukaku hanyalah hal minor.
ada hal mayor di bagian terdalamnya.
Ingin rasanya berteriak menyuarakan semua.
Tapi aku adalah aku...
Aku menikmatinya sendiri...semuanya...
tapi kini aku mulai merana menjahit luka dalam kesendirian tanpa ditemani waktu,
seakan semuanya tiada akhir.
Aku lelah memaksa senyum.
Aku runtuh jika harus terus-menerus membuat tawa dalam kepedihan.
Hal minor dan mayor tak terpisahkan,
dan karena itulah aku hanya boleh berteriak di setiap sepi...
Langganan:
Postingan (Atom)